Kembali Belajar, Berkenalan dengan Charlotte Mason



Masih belum move on dari tahun 2020. Boleh kan bercerita lagi tentang 2020? 

Tahun 2020 bisa dibilang sebagai tahun yang penuh renungan. Tidak hanya renungan diri, tapi banyak hal. Kali ini saya ingin berbagi renungan akan pendidikan anak-anak. 

Semua berawal saat kami menyadari bahwa kakak yang akan beranjak ke SMP dan adik  akan masuk usia TK di tahun 2021. Ditambah  mereka adalah Gen Z dan Alpha, yang sangat melek teknologi, multi focus dan berwawasan terbuka - dunia informasi sangat terbuka lebar, semua yang serba virtual memiliki daya tarik yang tinggi. Sehingga muncul sebuah pertanyaan besar (bagi kami):

Apakah bekal yang ditanamkan sudah cukup untuk anak-anak hingga besar nanti?

 Kalau memikirkan ini melankolis banget rasanya. 

Beruntung saya dikelilingi teman-teman yang ngulik banget dalam hal pendidikan anak, bisa dibilang mereka tidak pernah 'puas' atau berhenti di satu informasi, namun terus menerus belajar dan menerapkan apa yang diyakininya. Dalam salah satu obrolan ringan, teman saya berkata, "insting ibu berperan besar dalam kemajuan anak." Jreengg.. sebagai orang yang go with the flow, rasanya prinsip lihat nanti adalah sebuah kebiasaan saya. Duh, terasa tertohok.. dan terpicu untuk belajar mencari tahu dan membuat rencana yang lebih baik. Kemana ajaaa bu.. kok baru ngeh sekarang sih. Tak ada kata terlambat, ya kaaaan *cari dukungan 

Setelah diskusi sana sini, lalu membaca artikel dan follow akun yang sering bercerita soal parenting dan pendidikan. Lalu saya mulai membaca buku Cinta Yang Berpikir dan terpikat dengan 20 filosofinya, yang garis besarnya adalah:

Anak-anak terlahir sebagai pribadi utuh – mereka bukan lembaran kosong atau embrio yang baru berpotensi menjadi pribadi utuh. Mereka adalah pribadi utuh.

Wah apa ini? maksudnya utuh bagaimana ya? Bolak balik baca tetapi ilmu ga maju-maju. Namun  semua ada jalannya, di bulan September 2020, saya membaca postingan tetangga yang sangat keren dan telaten mba @qonita_syafutra tentang sesi workshop virtual yang bertajuk Mengapa, Apa dan Bagaimana. Langsung dong DM beliau, dan ternyata postingan tersebut adalah paska workshop yang sudah berlangsung. Tak patah arang, saya pun titip pesan (sekaligus seat) jika ada workshop lagi, saya berminat join. Alhamdulillah tidak menunggu waktu lama, workshop serupa untuk batch 2 diadakan di akhir Oktober yang diorganisir oleh teman-teman dari @menyemaihikmah.id 

Siapakah Charlotte Mason?


Perkenalan lebih lanjut dengan metode CM di bulan Oktober itu berlangsung sangat menyenangkan, sesi workshop virtual yang bertajuk Mengapa, Apa dan Bagaimana mengupas tuntas filosofi CM serta pengalaman  pribadi presenternya (yang tidak lain adalah mba Qonita) saat memulai hingga kini. Bersama hampir seratus peserta (catat yaa.. bukan belasan atau puluhan loh), diskusi mengenai metode ini selalu seru dan nyaris tanpa henti (bahkan hingga kini). Saya sebagai newbie pelan-pelan mulai mendapat pencerahan. Sungguh sebuah kesempatan untuk mendapatkan informasi secara menyeluruh dan berbarengan dengan informasi yang didapat, perlahan pertanyaan yang berkecamuk di kepala pun mulai terjawab satu demi satu. Terima kasih teman-teman baru dan menyemai hikmah!


Siapakah Charlotte Maria Shaw Mason? Beliau adalah pengajar dan praktisi pendidikan yang lahir tahun 1842. Sosok yang sangat visioner bahkan hingga kini. Di tahun 1887 beliau mulai memetakan prinsip, menerbitkan buku dan mendirikan sekolah untuk guru. Quote beliau yang sangat terkenal adalah Children are Born Person.


CM menjabarkan Pendidikan BUKANLAH sebuah sistem yang berlangsung secara mekanis dan objektif. Mekanis yang artinya semua diperlakukan seragam dan Objektif adalah anak sepenuhnya sebagai objek, benda yang pasif dan pasrah yang bebas ditulisi/diisi apa saja. Bagai formula tips dan trik yang diulang pada semua anak dengan harapan memberikan hasil yang sama. Padahal dalam baking aja, selalu ada penyesuaian dalam formula resep dan tehnik untuk mendapatkan hasil terbaik yaa... laah kok baking sih pikirannya (hmmm)


Sistem itu baik, tapi hanya sebagai instrumen. Sementara Metode lah yang harus diterapkan, metode ini berisi visi kedepan dan prinsip yang akan dijalankan sesuai kondisi masing-masing. Setiap anak membutuhkan metode yang berbeda. Mengutip presentasi pada workshop, CM dalam menyusun pendidikannya peduli dengan pertanyaan "Apa hakikat Manusia" Hal ini akan mendukung sosok anak sebagai pribadi yang utuh, manusia dengan jiwa yang terus berubah, berproses dan tumbuh. 


What's next? 


Lalu apa yang telah dilakukan sejak workshop itu? apakah fixed jadi homescholer? Pindah sekolah? Belanja Buku? Hahahhaah Tenang gaes.. setiap keluarga memiliki arus masing-masing, kalau saya memilih untuk membekali diri saya dulu dengan mencoba menata kembali dan belajar belajar belajar. Nikmati proses, karena semua tidak seinstan frozen food yang dipanaskan langsung jadi (laahh kembali ke makanan hahhahaa maafkan saya kalau bingung memang larinya jadi mikirin makanan 😅) 


Kok saya bisa 'setenang' itu, padahal kalau baca pengalaman yang lain banyak juga yang jadi stres, panik, bahkan mundur teratur. Lagi-lagi saya harus berterima kasih ke workshop itu, karena sangat ditekankan untuk tetap tenang dan membuat perencanaan sebelum terjun lebih lanjut. Jadi jujur perubahan yang dilakukan belum sedrastis itu. 


Kenapa? karena balik lagi, saya merasa bekal saya belum cukup dan merubah sesuatu butuh proses. Saat day 1 workshop, kami sudah diingatkan untuk membuat visi misi keluarga. Hingga akhir tenggat waktu, saya bahkan belum berhasil membuat visi misi tersebut loh. Namun alhamdulillah sekarang sudah selesai. Again, sebagai mahluk yang tidak ingin stres kebanyakan, prinsip go with the flow diterapkan, namun kali ini arusnya bukan arus liar ya tetapi arus yang terukur *bijak mode on.


What's Now?


Sambil membekali diri, saya ikut menjadi relawan dalam menerjemahkan living books, membuat wishlist buku dan memperkaya diri dengan mengikuti diskusi dengan member serta komunitas lainnya. Beruntung di jaman serba virtual ini semua proses jadi lebih mudah dan waktu dapat disesuaikan. Semoga di lain kesempatan, saya dapat berbagi proses tersebut lebih detil. 


Proses yang sudah lakukan saat ini adalah mendengarkan  dan mengamati tantangan atau kemampuan apa yang sedang dihadapi. Saya mencoba menambahkan 3 hal ritual baru dalam keseharian, yaitu: 

  1. Menerapkan disiplin. Saya memodifikasi jadwal harian yang wajib diikuti oleh tiap anak sesuai dengan kesepakatan mereka, misalnya menambahkan waktu belajar selama 15 menit di jawal sang Adik. Memang tidak lama, tapi saya ingin ia nyaman dulu dan lagi pula anak usia 4 tahun hanya bisa fokus tidak lebih dari durasi tersebut. Saya percaya sebelum dapat maju bersama ke tahap selanjutnya maka kedisplinan ini sudah harus ada. Hal ini sejalan dengan filosofi CM yang ke 7 -  Pendidikan adalah disiplin” – disiplin di sini berarti melatihkan kebiasaan-kebiasaan baik secara terencana, teratur, dan bertujuan, baik kebiasaan mental dalam pikiran maupun tubuh, sesuai dengan hukum-hukum fisiologis. 
  2. Luangkan waktu berkualitas bersama, lebih banyak. Walaupun selama beberapa bulan ini kita melakukan apapun di rumah (WFH & PJJ), tapi waktu yang berkualitas rasanya tidak banyak. Terkadang pikiran melayang ke tugas kantor, daftar belanjaan ataupun hal lainnya. Jadi disini saya dan paksu, berusaha untuk memfokuskan jiwa raga bersama anak - apakah itu melalui permainan, jalan pagi bersama, membaca bersama dan tentu saja beribadah bersama (sebuah keistimewaan tahun 2020 yang sangat berharga). Kami berusaha menciptakan atmosfer, yang semoga sejalan dengan filosofi 5 dan 6 yaitu Pendidikan adalah atmosfir, disiplin, kehidupan. 
  3. Rutinitas ketiga, adalah sesuatu yang saya anggap cukup mendasar. Karena berdasarkan pengamatan, mereka yang kurang literasi sementara ide-ide mereka bertebaran begitu liarnya. Dan sebagai generasi yang melek digital, mereka tidak tertarik membaca - karena semua bisa ditemukan dengan fitur 'search' atau melalui penjelasan via video yang berseliweran di youtube. Oleh karena itu saya menyisipkan kegiatan literasi dalam jadwal keseharian, lagi-lagi cukup 15 - 30 menit sehari, mereka membaca kemudian menceritakan kembali narasi hasil bacaannya. Saat ini masih diawali dengan bacaan ringan yang mereka sukai, semoga nanti bisa bertambah membaca living books dan yang agak berat seperti sejarah ataupun ilmu lainnya.  
Begitulah 3 hal sederhana yang sedang saya terapkan saat ini, masih ada beberapa kegiatan yang akan dilakukan seperti menulis atau menggambar jurnal, menyusun kurikulum dll. Tapi sabar adalah kunci bukan? Saya ingin anak-anak menikmati proses dan perubahan ini dengan happy, bukan terpaksa. Dan terutama I want to be happy too, karena kembali ke awal cerita... saya ingin memberikan bekal bukan beban bagi anak-anak dan jika ibu bahagia, anak-anak juga akan lebih happy lagi. Setujuuuu? 

Bismillah, ini akan menjadi awal perjalanan yang baik untuk masa depan mereka. Semoga tetap istiqomah dan maju terus pantang mundur.... Jika ada yang memiliki pengalaman serupa atau mungkin saran, boleh banget berbagi di kolom komen. Terima kasih banyaak


Comments

Popular posts from this blog

Kenapa GPipita?